Sabtu, 03 Maret 2012

Potensi Energi dan Sumber Daya Mineral Bali


1.       PENDAHULUAN

Penyelidikan geokimia regional sistematik dengan kerapatan 1 per 24 km2 meliputi daerah seluas 4.300 km2, dilaksanakan pada bulan Juli – September 2004 di Lembar Peta Denpasar & Mataram pada sekala 1: 250.000.
Gambar 1.  Peta lokasi daerah penyelidikan

 
Penyelidikan tersebut dilakukan sebagai penyediaan data dasar geokimia untuk melengkapi basis data Sistem Informasi Sumber Daya Mineral Indonesia, dan berperan penting dalam eksplorasi mineral, serta untuk keperluan lainnya seperti : pertanian, perkebunan, peternakan pemukiman, bahkan mulai digunakan dalam pengelolaan masalah lingkungan, konservasi dan bidang kesehatan.

1.       GEOLOGI

Penyelidikan sebelumnya yang pernah dilakukan di wilayah Pulau Bali,  meliputi penyelidikan mineral industri, panas bumi, pemetaan geofisika anomali bouguer, pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi dan pemantauan lingkungan kimia air tanah.
Kondisi geologi pulau Bali merupakan manifestasi penunjaman (subduksi) Kenosoikum Kerak Samudera Hindia terhadap dataran Sunda. (Crostella, dkk 1976; Katili, 1975; Audrey-Charles, dkk, 1975). Batuan beku dan volkanik pada umumnya berafiliasi kalk-alkalin.
Daerah penyelidikan merupakan daerah yang berbentang alam : rangkaian gunung berapi berelief kasar, perbukitan bergelombang dan karst dengan relief kasar dan morfologi karst berelief kasar, berpola aliran sungai radier hingga dendritik.
Penyajian peta geologi yang disederhanakan bersumber dari Peta Geologi P3G versi Purbo-Hadiwidjojo M.M (1971).
Batuan tertua yang tersingkap di pulau ini adalah batuan volkanik berumur Miosen Bawah, terdiri dari aglomerat andesitis sampai basaltis bersisipan batuan karbonatan, napal, batupasir, lava andesitis/basaltis dan tuf. Kadang-kadang dijumpai fosil foraminifera pada batuan karbonatan dan batu apung pada tuf. Kelompok batuan tersebut tersebar sebagian besar di bagian barat, sedikit di timur dan utara daerah penyelidikan.

Gambar 2. Peta Geologi disederhankan.
 
Kelompok batuan sedimen yang terdiri dari batugamping dan batugamping pasiran dan diperkirakan berumur Tersier, menyebar di bagian selatan. Di bagian tengah daerah penyelidikan, mulai dari barat hingga timur pada umumnya ditutupi oleh batuan volkanik yang relatif lebih muda yaitu batuan volkanik Kuarter, yang terdiri dari lava, lahar, breksi dan tuf, pada umumnya berkomposisi dasit, andesit sampai basal dan sering dijumpai tuf yang mengandung batuapung. Mineral asesori dari grup mika terutama biotit, mineral sedikit magnetite dan ilmenit sangat lazim ditemukan pada batauan volkanik lelehan dan piroklastik.
Sedangkan di bagian barat dijumpai sebaran batuan sedimen Kuarter yang terdiri dari batupasir, konglomerat dan batugamping terumbu. Aluvial terdiri dari endapan lempung, pasir, kerikil, kerakal hingga bongkah bermacam-macam batuan yang diendapakan di sepanjang dataran banjir sungai dan muara yang merupakan hasil pengendapan sungai – sungai besar, serta di sepanjang pantai yang merupakan hasil pengendapan pantai.
Struktur geologi secara umum teramati berupa kelurusan-kelurusan morfologi yang diperkirakan sebagai sesar dominan berarah barat - timur dan sebagian kecil berarah utara –selatan seperti yang terlihat di bagian timur. Struktur dominan tersebut memotong batuan-batuan volkanik dan sedimen Tersier.
Pelapukan cukup kuat dengan batuan penutup volkanik Kuarter menyebabkan sulit mengamati jejak-jejak struktur di daerah penyelidikan.

1.      MINERALISASI

Indikasi pemineralan teramati pada float batuan berstruktur breksi, dan sedikit mengandung barik-barik (stringers) kuarsa yang terlimonitkan. Ubahan tersebut ditemukan di Sungai Bedugul daerah Amed, yaitu di bagian timurlaut daerah penyelidikan, mungkin bersal dari windows batuan volkanik Tersier pada lingkungan batuan volkanik Kuarter (breksi tuf dan lahar) yang sangat tebal. Seperti halnya busur kepulauan bergunung api lainnya yang menyebar di NTT dan NTB, secara fisiografi pulau Bali memungkinkan untuk ditemukan pemineralan logam. Asumsi tersebut terbukti dengan teramatinya indikasi pemineralan, walaupun sedikit sekali, yaitu pada bongkah batuan breksi tuf, mengalami ubahan argilik (silica-clay, sedikit (0,1%) limonitik quartz stringers (barik-barik kuarsa) (F2556 : 347014 E, 9074996 N). Berdasarkan informasi penduduk setempat, bahwa di daerah tersebut pernah ada kegiatan eksplorasi emas (KP) milik PT.Nusa Bayah Kencana, namun sudah diitnggalkan, dan tidak pernah ada laporannya.
Dari hasil pengamat-pengamat terdahulu dan kenyataan di lapangan, bahan galian C (meliputi batugamping, tras, sirtu dan tanah liat) di P. Bali mempunyai potensi yang cukup menarik. Namun sebagai daerah yang sudah dikenal sebagai daerah pariwisata tentunya perhatian lebih di arahkan untuk menjaga kelestarian alamnya agar pulau ini tetap memperlihatkan daya tarik wisata. Berkaitan dengan ini, perlu dilakukan inventarisasi dan evaluasi penyebaran bahan galian tersebut agar menjadi komoditi unggulan, sehingga penambangan secara bijaksana dapat meningkatkan pendapatan asli daerah, namun ramah lingkungan.

2.      PENYELIDIKAN GEOKIMIA

Telah terkumpul 165 contoh sedimen sungai (aktif) -80 mesh seberat ± 200 gram berat kering, dengan kerapatan contoh satu contoh per 24 km2, pada daerah seluas ± 4.300 km2  dari wilayah pulau Bali yang mempunyai luas 5.448 km2. Kerapatan contoh ditentukan dengan mempertimbangkan aspek geologi, pola aliran sungai dan pencapaian daerahnya. Hampir 20 % wilayah pulau Bali, yaitu di bagian tengah ditutupi oleh batuan volkanik Kuarter.
Oksida Fe_Mn dan derajat keasaman air sungai (pH) sangat berpengaruh terhadap mobilitas unsur di lingkungan dispersi sekunder. Oksida-oksida tersebut sangat umum ditemukan pada lingkungan batuan volkanik (banyak dijumpai presipitasi mineral berat magnetit, ilmenit dan mangan), yang besar pengaruhnya terhadap konsentrasi unsur pada conto sedimen sungai. Sering dijumpai anomali unsur geokimia sebagai hasil pengikatan kimiawi (scavanging) pada oksida-oksida Fe dan Mn.
Derajat keasaman air sungai (pH), merupakan salah satui faktor yang mempengaruhi mobilitas unsur geokimia. Hasil pengukuran mengungkapkan pH di daerah penyelidikan pada umumnya bersifat basa (> 8), dan setempat-setempat diselingi oleh pH bersifat netral (7 - 8). Keadaan sifat derajat keasaman tersebut, secara umum cenderung dipengaruhi oleh komposisi batuan volkanik. Pada lingkungan pH air sungai relatif basa, unsur runut (trace elements) pada umumnya mempunyai mobilitas yang cukup tinggi, dan ini sangat membantu dalam penyelidikan geokimia di daerah yang mempunyai tanah (soil) ataupun batuan muda penutup yang tebal.
Contoh -contoh geokimia sedimen sungai (aktif), dan batuan yang terkumpul dipreparasi dan dianalisis di Laboratorium Kimia Mineral Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral Bandung. Unsur-unsur yang ditentukan terdiri dari Cu, Pb, Zn. Co, Ni, Mn, Li, K, Cr, Fe, Au, Ag, As, Sb, dan Mo.
Hasil analisis geokimia disajikan dalam satuan ppm, kecuali Fe (%) dan Au (ppb). Karakteristik distribusi unsur geokimia pada umumnya adalah normal. Kemudian data di analisis statistik dengan metoda korelasi, analisis gugus (cluster analysis) dan analisis faktor
Zonasi kewilayahan (trend of regional distribution) sebaran unsur atau asosiasi spasial unsur geokimia lebih jelas disajikan dengan pola spektrum warna dengan kelas interval ditentukan dengan metoda kecenderungan pengelompokan nilai pada kurfa probabilitas kumulatif (natural break).

3.      HASIL PENYELIDIKAN GEOKIMIA

Penafsiran melalui pendekatan asosiasi/pengelompokan unsur lebih menjelaskan proses yang mendasari distribusi yang terjadi pada unsur-unsur geokimia.
Pendekatan analisis statistik multivariabel mengungkapkan isyarat geokimia yang diperlihatkan oleh pengelompokan: As_Au_Cu; Pb_Zn; Co_Zn_Fe_Mn ; Cr_ Ni ; K_ Li.

4.      PEMBAHASAN HASIL   PENYELIDIKAN GEOKIMIA

Secara fisiografi pulau Bali yang merupakan bagian dari busur kegunungapian Banda, berkomposisi batuan beku (volkanik) kalk-alkalin, dan memungkinkan untuk ditemukan pemineralan logam.  Hal  ini terbukti  dengan terungkapnya mandala geokimia unsur logam Au, Ag, As, Cu, Pb dan Zn yang menyebar di bagian selatan daerah penyelidikan.
Sebaran anomali unsur Au, Cu, As , Ag dan Mo di bagian timur daerah penyelidikan, berasosiasi dengan batuan yang mengalami ubahan argilik dan mengandung barik-barik kuarsa yang  terlimonitkan, membuktikan  kemungkinan pemineralan epitermal Au, diikuti anaomali Ag  logam dasar. Sedangkan di bagian barat berasoiasi dengan batuan volkanik Tersier terpropilitkan.dan anomali Ag.
Hasil analisis geokimia batuan tidak memberikan hasil yang menjanjikan, yaitu :
·         Mo = 5 ppm,
·         Au = 9 ppb,
·         Cu = 26 ppm,
·         Pb = 16 ppm,
·         Zn = 6 ppm).
Mandala geokimia Pb dan Zn tersebar di bagian selatan sedikit diikuti anomali Ag dan Mo, yaitu di sekitar daerah G. Batuan yang diikuti anomali Fe dan Mn berasosiasi dengan batuan volkanik berkomposisi basaltis andesitis. Hal ini ditafsirkan sebagai indikasi kemungkinan hadirnya pemineralan logam dasar Pb/Zn tipe VMS.

Gambar 3.  Peta geokimia asosiasi   Pb_Zn  
 
Sebaran Sb  pada  umumnya  cenderung  berafiliasi dengan peninggian  Mn  di lingkungan batuan volkanik berkomposisi asam.
Hal yang menjadi permasalahan eksplorasi mineral logam di wilayah Provinsi Bali adalah ketebalan produk Gunung api Kuarter, dan pertimbangan bahwa wilayah ini merupakan kawasan wisata, maka perlu dikaji lebih lanjut manfaatnya. Asosiasi  Co_Zn_Fe_Mn merupakan penciri proses geokimia yang lazim di lingkungan  geokimia  permukaan.

Gambar 4.  Peta geokimia asosiasi Co_Zn_Fe_Mn
 
Kelompok ini erat terkait dengan sebaran kelompok litologi volkanik Kuarter berkomposisi menengah sampai basa, yang mempunyai konsentrasi latar belakang Zn dan Co yang cukup tinggi. Akibat lingkungan pH basa sehingga terjadi peningkatan secondary dispersion terhadap unsur-unsur tersebut, kemudian diikat secara kimiawi oleh oksida-oksida mangan dan besi yang berasal dari mineral-mineral feromagnesian.
Variasi harga Cr dan Ni secara umum kecil dibandingkan konsentrasi pada kerak bumi. Batuan berkomposisi ultra basa tidak pernah dijumpai di daerah ini. Dari hasil pemetaan sebaran unsur-unsur dan asosiasinya, isyarat geokimia tersebut tersebar di wilayah barat yaitu di sekitar wilayah G. Mesehe dan G. Patas, dan di sebelah timur Kota Bangli dan Klungkung dan kemungkinan dapat ditafsirkan sebagai indikasi hadirnya batuan volkanik berkomposisi menengah sampai basa.
Demikian halnya dengan K, Li, indikasi tersebut ditafsirkan sebagai cerminan hadirnya batuan volkanik berkomposisi asam (umumnya lava dan piroklastik berkomposisi dasitis), yang tersebar di bagian tengah mulai dari wilayah bagian utara Kota Denpasar hingga di wilayah Kota Singaraja di utara. Li ditafsirkan/mungkin berasal dari grup mika (spesies lepidolit dan biotit) dan K berasal dari spesies potasium felspar (Gambar 6).
Peninggian konsentrasi unsur Pb yang bersifat setempat-setempat dan tanpa diikuti peninggian unsur lainnya seperti yang terlihat dibagian utara dan sebarannya secara umum dekat dengan kota besar mungkin dapat ditafsirkan sebagai manifestasi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh bahan bakar kendaraan.


1.       KESIMPULAN DAN SARAN
Provinsi Bali secara umum dihampari batuan volkanik dan sedimen Tersier dan Kuarter, berkomposisi dasitis, andesitis hingga basaltis. Jejak sesar tidak terlalu berkembang dengan jelas, akibat tertutup produk volkanik Kuarter yang cukup tebal.
Indikasi geokimia yang menjelaskan hadirnya suatu pemineralan meliputi :
·         Asosiasi unsur-unsur geokimia As_Au_Cu ± Ag dan Mo, telah ditafsirkan sebagai petunjuk pemineralan epitermal logam Au ± sulfida logam dasar dan
·         Asosiasi Pb_Zn ± Ag dan Mo yang ditafsirkan sebagai petunjuk kemungkinan pemineralan tipe VMS Pb/Zn.

Indikasi tersebut telah dipetakan sebarannya berdasarkan peta sebaran sekor faktor, dan selanjutnya direkomendasikan untuk menindak lanjuti indikasi prospek-prospek yang telah dilokalisir, yaitu di bagaian selatan dan timur daerah penyelidikan.

Gambar 5.  Peta daerah target Tindak lanjut
Asosiasi Co_Zn_Fe_Mn telah ditafsirkan sebagai indikasi/isyarat proses pengikatan kimiawi (scavanging) oleh oksida Fe dan Mn. Sedangkan asosiasi lainnya yang meliputi Cr_ Ni ; K_ Li masing-masing telah ditafsirkan sebagai penciri batuan volkanik berkomposisi andesit basal dan batuan volkanik berkomposisi dasitis. Sb tidak memperlihatkan zona peninggian  cukup signifikan, sebarannya cenderung dipengaruhi oksida Mn pada lingkungan batuan volkanik berkomposis relatif asam.
Peneliti-peneliti terdahulu (misalnya : Madiadipoera., dkk., 1980) telah menginformasikan bahwa Pulau Bali merupakan daerah yang cukup potensial untuk pertambangan bahan galian industri, serta menyimpan potensi energi panas bumi, dan besar kemungkinannya prospek untuk bahan galian logam. Namun demikian wilayah ini telah dikenal sejak lama sebagai salah satu daerah unggulan pariwisata, maka sebaiknya potensi-potensi tersebut tidak dieksploitasi. Namun bila potensi bahan galian industri tersebut mendesak/memang benar-benar diperlukan, maka eksploitasinya harus dilaksanakan dengan cukup bijaksana, artinya tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Kemungkinan adanya indikasi pemineralan logam serta potensi energi panas bumi, sebaiknya ditindak lanjuti namun disarankan hanya sebatas untuk diinventarisir, sebagai bahan untuk melengkapi basis data Sistem Infromasi Sumber Daya Mineral Indonesia dan informasi untuk pemerintah daerah.
Pemanfaatan data geokimia sedimen sungai sebagai alat pemantau penemaran lingkungan akan lebih optimal infromasinya, bila unsur-unsur indikator pencemaran lainnya diikutsertakan dalam program analisis geokimia mendatang (misalnya, Cd dan Hg). Begitu juga di bidang lainnya seperti pertanian misalnya, perlu diikutsertakan unsur-unsur yang diperlukan sebagai indikator bidang pertanian, dan hal ini perlu dikordinasikan dengan lembaga terkait.


DAFTAR PUSTAKA

Husin A., 1969. Laporan Singkat Tentang Penyelidikan Pendahuluan terha-dap Pasir Pantai Selatan Bali.
Madiadipoera., dkk., 1980. Hasil Seminar dan Lokakarya Pengembangan Industri Kapur di Bali. Direktorat Sumberdaya Mineral. Sub Direktorat Eksplorasi Mineral Bukan Logam dan Batubara.
Purbo-Hadiwidjojo M.M., 1971. Peta Geologi Lembar Bali sekala 1: 250.000. Ditebitkan oleh Direktorat Geologi Bandung.
Suryana N., dkk., 1992. Peruntukan Lahan Usaha Pertambangan Dalam Tata Ruang Wilayah di Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali. Laporan Pengembangan Mineral Regonal No.87. Departemen Pertambangan dan Energi, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum.Pusat. Pengembangan Mineral Regional.
Suud A.F., dkk., 1995. Lokasi dan Potensi Sumberdaya Mineral (Bahan Galian Golongan B dan C). Propinsi Nusa Tenggara Barat. Departemen Pertambangan dan Energi Sekretariat Jenderal. Kantor Wilayah Propinsi Nusatenggara Barat .
Untung M., 1972. Peta  Anomali  Bouguer Lengkap Bali sekala 1: 250000. Diterbitkan oleh Direktorat Geologi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar