Sabtu, 18 Desember 2010

PERAN PETA DALAM TATA RUANG

PERAN PETA DALAM TATA RUANG
UMUM
Beberapa hal penting menyangkut komponen peta yang harus diperhatikan dalam pembuatan dan pemanfaatan peta untuk kebutuhan penataan ruang adalah :
  • Skala peta
Skala peta harus merupakan informasi yang mengandung kebenaran. Ketidaksesuaian skala peta akan menimbulkan potensi konflik antara pihak-pihak yang terkait, seperti pihak Pemerintah, pemilik ruang, pemanfaat ruang, pengembang ruang, dan sebagainya.
  • Arah mata angin
Arah mata angin dalam peta juga merupakan informasi yang sangat penting keberadaannya. Arah mata angin akan memberikan informasi mengenai karakteristik lintasan matahari, arah angin, dan kondisi mikro klimat lainnya yang sangat penting dalam kegiatan perencanaan tata ruang.
  • Elevasi lahan
Elevasi lahan akan menentukan arah air permukaan mengalir dan informasi ini akan sangat berharga dalam aktivitas perencanaan tata ruang. Keberadaan peta dengan informasi elevasi lahan yang miskin akan mengurangi kualitas produk tata ruang, karena pola pengembangan lahan berpotensi menimbulkan dampak pada lahan yang secara topografis terletak lebih rendah.
􀂉 Distorsi peta
Sering tanpa disadari kita menggunakan peta yang tidak jelas sumbernya dan merupakan produk dari proses repro dari peta aslinya. Peta yang demikian jelas sangat minim kemanfaatannya dalam kegiatan penataan ruang karena informasi aslinya telah mengalami distorsi. Proses digital sebagai upaya untuk membetulkan distorsinya sering tidak maksimal karena hanya mempertimbangkan peta tersebut secara individual, padahal selembar peta tersebut merupakan bagian dari wilayah yang lebih besar.

BEBERAPA MANFAAT PETA DALAM AKTIVITAS PEMBANGUNAN

PETA SEBAGAI INSTRUMEN PERENCANAAN RUANG

Peta memiliki peran sangat penting dalam perencanaan tata ruang. Keberadaan peta yang memiliki akurasi tinggi akan sangat membantu dalam aktivitas perencanaan ruang. Mengingat bahwa output perencanaan adalah sebuah rencana tata ruang yang akan dipedomani oleh seluruh pemanfaat ruang, maka eksistensi peta (yang akurat) merupakan hal yang mutlak dalam perencanaan tata ruang. Agar rencana tata ruang yang disusun dapat diikuti oleh pemilik dan pengembang ruang, maka seluruh pihak yang terkait dengan ruang harus memiliki dasar pijakan bertindak yang sama, yaitu eksistensi peta yang memadai. Apabila peta yang digunakan sudah sesuai dengan kondisi alamiah ruang yang ada, maka paling tidak satu kesepakatan telah dapat diwujudkan antara pihak Pemerintah dengan para pemilik dan pengembang ruang, selain tentunya beberapa kesepakatan lain dalam substansi rencana peruntukan ruang yang umumnya paling crucial dalam proses perencanaan tata ruang.

PETA SEBAGAI INSTRUMEN PERIJINAN PEMBANGUNAN RUANG

Peta juga memiliki peran sangat penting dalam perijinan pembangunan, khususnya pembangunan fisik yang memanfaatkan ruang. Keberadaan peta yang memadai dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif antara pemberi ijin dengan pemohon ijin. Dengan peta yang memadai, maka batas-batas ruang yang akan dibangun menjadi jelas, sehingga akan memperkecil kemungkinan terjadinya konflik dengan pemilik ruang disekitarnya. Penggunaan peta yang kurang memadai dapat berakibat pada pembangunan fisik yang kemungkinan akan memanfaatkan ruang milik pihak lain disekitarnya.

PETA SEBAGAI INSTRUMEN PENGAWASAN RUANG

Eksistensi peta memiliki kontribusi sangat penting dalam kegiatan pengawasan pembangunan ruang. Dalam kegiatan pengawasan, dibutuhkan suatu dasar pijakan yang sama antara pihak pengawas (dalam hal ini adalah Pemerintah) dengan pihak yang diawasi (para pemanfaat dan pengembang ruang). Untuk menjamin adanya platform yang sama dalam pengawasan, maka eksistensi peta yang memadai merupakan hal yang mutlak. Bisa dibayangkan apabila pihak-pihak yang berkomunikasi dalam kegiatan pengawasan pembangunan menggunakan peta yang berbeda. Di satu sisi, pihak pemanfaat dan pengembang ruang merasa menggunakan ruang dengan benar, sementara pihak pengawas merasa bahwa pihak pemanfaat dan pengembang lahan menggunakan ruang dengan cara-cara yang manipulatif.

PETA SEBAGAI INSTRUMEN PENGENDALIAN RUANG

Sebagai instrumen pengendalian, maka fungsi peta disini merupakan media komunikasi antara pengendali ruang (pihak Pemerintah) dengan pemilik ruang. Setiap kegiatan perubahan peruntukan ruang yang dilakukan oleh pemilik ruang harus dapat dikontrol dan dikendalikan oleh pihak Pemerintah. Apabila kegiatan perubahan peruntukan ruang kemudian ditengarai tidak sesuai dengan rencana tata ruang, maka pihak Pemerintah berkewajiban untuk melakukan pengendalian. Salah satu instrumen dalam pengendalian ruang adalah eksisten peta yang memadai, selain syarat-syarat administratif tentunya.

PETA SEBAGAI INSTRUMEN KOORDINASI

Dalam kaitan dengan fungsi peta sebagai instrumen koordinasi, maka eksistensi peta seharusnya tidak hanya disepakati antara pihak Pemerintah dengan pemilik dan pengembang ruang saja, tetapi sangat penting adalah bahwa peta yang tersebut juga merupakan kesepakatan antara berbagai institusi di dalam tubuh Pemerintah sebagai regulator pembangunan ruang. Sering dijumpai dalam alam yang serba modern ini, beberapa kasus ketidaksesuaian antara aktivitas pada masing-masing institusi karena mereka ternyata tidak menggunakan platform yang sama, yaitu peta.
Sebagai contoh, PDAM Surabaya telah memiliki tidak hanya sekedar peta, tetapi lebih merupakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengelola seluruh jaringan pelayanan air bersih di wilayah pelayanannya. Sementara itu beberapa Dinas di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya juga telah memiliki peta yang memadai meskipun belum dibangun dalam bentuk Sistem Informasi Geografis (SIG). Beberapa waktu lalu ketika Pemerintah Kota Surabaya membangun jembatan MERR di Kedung Baruk, terjadi ‘kecelakaan’ yang cukup memalukan dimana konstruksi tiang pancang yang sedang dipasang secara tidak sengaja menimpa dan merusak jaringan pipa PDAM, sehingga supply air bersih dari PDAM Surabaya ke kawasan di sekitar jembatan MERR menjadi terganggu selama beberapa bulan. Mengapa peristiwa ini mesti terjadi ketika institusi yang terlibat dan terkait dalam pembangunan jembatan MERR ini sudah memiliki instrumen peta yang sangat memadai ?
Dalam perannya sebagai instrumen koordinasi, peran peta sangatlah sentral. Oleh karena itu sudah merupakan kewajiban apabila Pemerintah Kota / Kabupaten secara internal memiliki satu peta dasar yang sama sebagai instrumen untuk melakukan dan meningkatkan fungsi koordinasi di antara institusi-institusi yang terkait.

PETA DAN GIS

Peta akan memiliki tingkat pemanfaatan yang lebih tinggi apabila peta tersebut kemudian dikonversi menjadi Sistem Informasi Geografis (SIG). Dengan SIG, maka peta tidak hanya sekedar dipahami sebagai gambar 2 dimensi saja, tetapi peta dapat dimaksimalkan pemanfaatannya sebagai alat untuk melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan integrasi pembangunan antar sektor, antar institusi, dan antar stakeholders.
Beberapa manfaat yang dapat diharapkan dari aplikasi SIG dalam aktivitas penataan ruang secara umum adalah3 :
  • A GIS is a tool to improve planning and decision making, Dengan SIG, Pemerintah akan mendapatkan fasilitasi dan berbagai kemudahan untuk melakukan kegiatan perencanaan dan pembuatan keputusan dalam rangka perencanaan pembangunan.
  • A GIS can create links among isolaed databases, enhancing the use o informaion as astrategicresource throughou the organization, Dengan SIG seluruh database yang ada dan terkait dengan satu kesatuan sistem informasi dapat diakses untuk kebutuhan satu sistem administrasi pemerintahan (internal) maupun antar sistem administrasi pemerintahan (eksternal) secara terintegrasi.
  • A GIS usually requires partnerships, Dalam mengaplikasikan SIG, kemitraan antar Pemerintah dan antara Pemerintah dengan institusi lainnya sangat diperlukan agar data yang dimuat dalam GIS dapat menjadi informasi yang berguna. Kemitraan akan dapat menghasilkan keuntungan berupa rendahnya biaya pengambilan data, rendahnya biaya pengembangan, rendahnya biaya investasi untuk peralatan, dan sebagainya.
  • A GIS offers the opporunity togenerate revenues through the sale of information, Dengan penerapan SIG, maka investasi yang cukup besar pada awalnya akan dapat tercover oleh pendapatan yang dapat di-generate melalui penjualan informasi ke pihak-pihak yang membutuhkan. Perlu dicamkan bahwa informasi dalam bentuk peta akan memiliki nilai jual selama akurasi dan kemanfaatannya yang tinggi.
Beberapa manfaat secara khusus yang dapat diperoleh dari eksistensi peta yang memadai dalam sistem SIG untuk Pemerintah Daerah adalah :
  1. Menyusun sistem informasi prasarana wilayah4, berupa :
  • Sistem perpipaan, meliputi jaringan gas, jaringan air bersih, dan jaringan air kotor
  • Sistem utilitas perkabelan, meliputi jaringan listrik, jaringan telepon, dan jaringan kabel lainnya
2. Keperluan perijinan, pembangunan fisik, penataan ruang, penataan lingkungan, dan lain sebagainya5 (Gambar 1.) :
  • Area mapping and reporing
  • Building permit
  • Development tracking
  • Election management
  • Emergency response
  • Facilities management
  • Facility siting
  • Land development
  • Land use / environmental planning
  • Land use egulation
  • Permiting and Licensing
  • Property management
  • Safety inspection / Code enforcement
  • Transportation planning
  • Vehicle routing
3. Keperluan yang berkaitan dengan perpajakan, emergency, lalu lintas, pengembangan ekonomi, dan lain sebagainya6 (Gambar 2.) :
  • Tax assessment and collection
  • Maintenance of property records
  • Dispatch of emergency service vehicles
  • Planning
  • Zoning
  • Permitting
  • Code enforcement
  • Traffic engineering
  • Operation of public works and utilities
  • Road maintenance
  • School bus routing and district design
  • Voter registration and election district apportionment
  • Delivery of public health programs
  • Economic development
  • Disaster relief planning and response
  • Map production

LUAS

LUAS


Pengertian Luas

Luas suatu objek (tanah, bangunan, dll) di peta merupakan luas pada bidang datar (X,Y). Jadi perlu dijelaskan kepada pengguna peta yang ingin menghitung luas objek yang dimiliki di lapangan nanti hasilnya akan lebih kecil dibandingkan hasil hitungan dengan peta. Pada peta proyeksi yang digunakan adalah proyeksi tegak sehingga objek yang terletak pada bidang miring sebelum digambar di peta objek tersebut harus diproyeksikan terlebih dahulu pada bidang datar. Dengan demikian panjang objek di bidang miring tersebut setelah diproyeksikan akan menjadi lebih pendek dibandingkan kenyataan di lapangan. Konsekuensinya luas objek yang dihasilkan lebih kecil dari luas sebenarnya di lapangan. Sebagai gambaran dapat dilihat pada gambar 14.1 dibawah ini:

Pada gambar di atas objek di lapangan ABCD setelah di petakan ke dalam bidang datar objek tersebut menjadi ABC’D’. Dari gambar terlihat bahwa Panjang AD’ dan BC’ lebih kecil dibandingkan dengan AD dan BC. Dengan demikian luas ABC’D’ lebih kecil dibandingkan dengan ABCD.

Metode Matematis

  • Koordinat
Diketahui polygon tertutup dengan koordinat masing-masing titik polygon diketahaui seperti gambar berikut ini:

Untuk menghitung luas polygon 12345 diatas dapat dilakukan dengan menjumlahkan luas trapezoid yang ada 12ca1, 23ec2, 34de3, 45bd4, dan 51ab5.

Secara umum formula untuk menghitung poligon dengan n titik poligon yang diketahui koordinatnya dapat dituliskan sebagai berikut:



Keterangan : Tanda absolut untuk menghindari hasil luas negatif karena luas hasilnya selalu positf
  • Trapezoid
  • Dengan offset yang sama
Metode Trapezoid biasanya digunakan untuk menghitung luas dengan daerah yang tidak teratur seperti gambar dibawah ini.

Gambar 14.3 Metode Trapezoid dengan Offset Sama

Untuk menghitung luas ABCD diatas maka dapat dihitung masing-masing luas A1, A2, A3, A4 dan A5 dengan jarak offset yang sama (L).

maka luas total ABCD

Secara umum untuk menghitung luas daerah yang tidak berarturan (bisa juga digunakan untuk daerah yang teratur) dengan pembagian sejumlah n bagian luas maka formulanya dapat disederhanakan sebagai berikut:


Dengan offset yang berlainan

Untuk menghitung luas ABCD diatas maka dapat dihitung masing-masing luas A1, A2, A3, A4 dan A5 dengan jarak offset yang berlainan (L1, L2, L3, L4, dan L5)

Gambar 13.4 Metode Trapezoid dengan Offset Berlainan


Secara umum untuk menghitung luas daerah yang tidak berarturan (bias juga digunakan untuk daerah yang teratur) dengan pembagian sejumlah n bagian luas maka formulanya dapat disederhanakan sebagai berikut:


Metode Grafis

Metode yang paling sederhana untuk menghitung luas daerah adalah dengan metode grafis yaitu dengan bantuan bujur sangkar (kertas grafik mm) dan segitiga.
  • Bujur Sangkar (Kertas mm)

Dari gambar diatas ada tiga jenis bujur sangkar yang digunakan yaitu misalkan yang besar dengan sisi 1 cm, sedang dengan sisi 5 mm dan kecil 1 mm. Dengan mengalikan skala peta yang ada dengan luas bujur sangkar-bujursangkar tersebut maka luas daerah tersebut akan dengan mudah dihitung. Yaitu dengan menjumlahkan seluruh luas bujursangkar yang melingkupi daerah tersebut. Semakin kecil bujur sangkar yang digunakan dan semakin besar skala peta yang digunakan maka semakin teliti hasil yang diperoleh.
  • Segitiga

Gambar 14.6. Metode Grafis dengan Segitiga Sebarang

Dari gambar diatas ada beberapa gambar segitiga dengan sisi a, b, c maka luas segitiga tersebut adalah

Maka luas total daerah yang diukur adalah dengan menjumlahkan seluruh luas segitiga yang melingkupi daerah tersebut. Semakin rapat segitiga yang melingkupi daerah tersebut maka luas yang dihasilkan semakin teliti.

Metode Mekanis

Cara lain yang digunakan untuk menghitung luas daerah yang tidak beraturan adalah dengan cara mekanis yaitu dengan alat yang dinamakan dengan planimeter. Alat planimeter diletakkan diatas peta (gambar) yang akan dihitung luasnya. Kemudian alat tersebut mentrace (mengikuti) batas wilayah yang akan diukur luasnya. Dengan konversi tertentu, maka luas akan dapat dihitung. Ketelitian hasil sangat bergantung pada besar atau kecilnya skala peta. Semakin besar skala petanya, akan semakin teliti hasil luasannya. Sekarang ini sudah tersedia planimeter mekanik (manual) dan planimeter digital.

Gambar 14.7. Planimeter

Metode Digitasi

Digitizing is the process of converting paper-based graphical information into a digital fomat. (Digitasi adalah proses untuk mengubah informasi grafis yang tersedia dalam kertas ke format digital). Cara yang paling umum digunakan untuk memasukkan data dari media kertas ke digital adalah dengan menggunakan alat digitizer dan scanner. Alat digitizer mengubah ke format digital langsung ke dalam bentuk vector sedangkan scanner dalam bentuk raster. Untuk data raster hasil scanning harus diubah ke format vektor dengan on screen digitasi. Software yang sering digunakan untuk digitasi peta adalah AutoCad Map. Setelah gambar berbentuk digital dnegan format *.dwg maka dengan mudah dicari luasnya dengan perintah area. Pada dasarnya perhitungan luas dengan software AutoCad Map dengan menggunakan metode matematis (koordinat).

Gambar 14.8. Metode Digitasi

KONTUR

KONTUR

Salah satu unsur yang penting pada suatu peta topografi adalah informasi tentang tinggi suatu tempat terhadap rujukan tertentu. Untuk menyajikan variasi ketinggian suatu tempat pada peta topografi, umumnya digunakan garis kontur (contour-line). Kontur adalah garis hubung antara titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Garis yang dimaksud disini adalah garis khayal yang dibuat untuk menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Garis kontur + 20 m, artinya garis kontur ini menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama + 20 m terhadap referensi tinggi tertentu. Walaupun garis tersebut mengubungkan antara dua titik, namum bentuk dan polanya tidak merupakan garis patah-patah. Garis-garis tersebut dihaluskan (smoothing) untuk membuat kontur menjadi “luwes” atau tidak kaku. Hal ini diperbolehkan pada proses kartografi.

Kegunaan Kontur

Selain menunjukkan bentuk ketinggian permukaan tanah, garis kontur juga dapat digunakan untuk:
  • Menentukan potongan memanjang ( profile, longitudinal sections ) antara dua tempat.
  • Menghitung luas daerah genangan dan volume suatu bendungan.
  • Menentukan route / trace dengan kelandaian tertentu.
  • Menentukan kemungkinan dua titik di langan sama tinggi dan saling terlihat.
Sifat Kontur

Kontur mempunyai beberapa sifat, diantaranya adalah sebagai berikut (lihat tabel 13.1):
Tabel 13.1 : Sifat Kontur
  • Kontur tidak mungkin bercabang

  • Kontur selalu menutup bentuknya. Menutupnya dapat di dalam muka peta ataupun diluar. Jika menutupnya diluar, maka pada muka peta terlihat kontur itu tidak menutup

  • Interval kontur dimaksudkan sebagai beda harga antara dua kontur yang terdekat

  • Daerah yang datar akan mempunyai kontur yang jarang.

  • Daerah yang terjal (curam) akan mempunyai kontur yang rapat.
  • Kontur tidak akan "masuk" bangunan atau rumah, tetapi mengikuti tepi dari bangunan tersebut

  • Kontur yang melewati/memotong sungai akan membentuk huruf V arah pangkalnya, arah naik
  • Kontur yang melewati/memotong jalan yang turun akan membentuk huruf U menghadap ke arah naiknya jalan


Interval Kontur

Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan. Jadi juga merupakan jarak antara dua bidang mendatar yang berdekatan. Pada suatu peta topografi interval kontur dibuat sama, berbanding terbalik dengan skala peta. Semakin besar skala peta, jadi semakin banyak informasi yang tersajikan, interval kontur semakin kecil. Umumnya, Interval Kontur = 1/2000 x skala peta, sebagai contoh, peta dengan skala 1: 500 memiliki interval kontur 0.25 m Berikut contoh interval kontur yang umum digunakan sesuai bentuk permukaan tanah dan skala peta yang digunakan.
Tabel 13.2: Interval kontur berdasarkan skala dan bentuk medan


Interpolasi Kontur

Interpolasi adalah cara untuk menentukan nilai diantara dua nilai yang telah tertentu harganya. Interpolasi yang paling sederhana dan sering digunakan untuk membuat kontur adalah interpolasi linear. Sebagai contoh tinggi titik A = + 10 m, tinggi titik B = 15 m. Apabila letak titik C tepat ditengah-tengah A dan B, sedangkan hubungan antara A dan B adalah linier, maka tinggi titik C sama dengan 12,5 m. Secara matematis untuk mencari tinggi titik C adalah sebagai berikut:

Kontur merupakan produk (hasil) dari interpolasi. Interpolasi kontur dapat diartikan sebagai cara mendapatkan harga kontur yang diinginkan dimana titik-titik di lapangan tingginya tidak tepat sama dengan harga kontur.

KONSEP PENGUKURAN DAN KESALAHAN

KONSEP PENGUKURAN DAN KESALAHAN

Seorang surveyor (geodetic engineer) melakukan pekerjaan mulai dari mendesain proyek sampai dengan mempresentasikan hasil laporan. Salah satu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang surveyor diantaranya adalah melakukan pengukuran (pengambilan data), melakukan perataan (adjustment), menganalisis data yang diperoleh, dan kemudian mengestimasi nilai hasil pengukuran (parameter). Jika ingin mendapatkan nilai hasil pengukuran yang mempunyai tingkat keandalan yang tinggi, maka seorang surveyor harus mengerti tentang konsep pengukuran (pengambilan data) dan kesalahan yang terjadi dalam pengukuran.

Nilai estimasi hasil pengukuran (parameter) diperoleh dari data pengukuran dengan menggunakan model matematika yang menyatakan hubungan antara pengukuran dan hasil pengukuran yang akan ditentukan nilainya. Adapun konsep dalam pengukuran :
  • Pengukuran pada umumnya menggunakan alat (instrumentation) yang dioperasikan oleh pengukur (observer) dalam keadaan lingkungan (environment) tertentu.
  • Setiap pengukuran mengandung kesalahan (errors)
  • Kesalahan sebenarnya (true error) adalah penyimpangan nilai hasil pengukuran (x) terhadap nilai sebenarnya (true value)

dimana e = kesalahan sebenarnya, x = nilai hasil pengukuran dan t = nilai sebenarnya
  • Karena nilai sebenarnya (t ) tidak pernah diketahui maka nilai kesalahan sebenarnya (e) juga tidak dapat diketahui.
  • Nilai pengukuran dan kesalahan pengukuran dapat diestimasi

  • dimana v = estimasi kesalahan (estimasi residu), x = nilai hasil pengukuran
    dan xˆ = estimasi nilai sebenarnya

Gambar 5.1 Konsep Pengukuran

Sumber-sumber Kesalahan

Berdasarkan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kesalahan, kesalahan yang terjadi pada pengukuran dapat diklasifikasikan sebagai kesalahan karena alam (natural errors), kesalahan karena alat ( instrumental errors) dan kesalahan karena pengukur (personal errors).


Jenis-jenis Kesalahan

Secara konvensional kesalahan dikategorikan ke dalam tiga jenis yaitu kesalahan besar (gross error), kesalahan sistematik (systematic error) dan kesalahan acak (random/accidental error).

Kesalahan Besar (Gross Error /Blunder)

  • Karakteristik : nilai pengukuran menjadi sangat besar/kecil/berbeda bila dibandingkan dengan nilai ukuran yang seharusnya.
  • Sumber : Kesalahan personal (kecerobohan pengukur)
  • Efek : Hasil pengukuran yang tidak homogen
  • Penanganan : Harus dideteksi dan dihilangkan dari hasil pengukuran
Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan besar ini yaitu:
  • Cek secara hati-hati semua objek yang akan diukur.
  • melakukan pembacaan hasil ukuran secara berulang untuk mengecek kekonsistenan.
  • Memverifikasi hasil yang dicatat dengan yang dibaca.
  • Mengulangi seluruh pengukuran secara mandiri untuk mengecek kekonsistenan data
  • Penggunakan rumus aljabar atau geometrik sederhana untuk mengecek kebenaran hasil ukuran. Misalnya dalam pengukuran sudut sebuah segitiga, jumlah ketiga sudutnya sama dengan 180.
Contoh 5.1 : blunder dalam pengukuran :
Hasil pengukuran jarak : 50,233 ; 50,234; 50,233, 5,234; 50,232



Kesalahan Sistematik (Systematic Error)
  • Karakteristik : terjadi berdasarkan sistem tertentu (deterministic system) yang dapat dinyatakan dalam hubungan ungsional (hubungan matematik) tertentu dan mempunyai nilai yang sama untuk setiap pengukuran yang dilakukan dalam kondisi yang sama
  • Sumber : Kesalahan alat
  • Efek : Hasil pengukuran menyimpang dari hasil pengukuran yang seharusnya
  • Penanganan : Harus dideteksi dan dikoreksi dari nilai pengukuran, contohnya dengan melakukan kalibrasi alat sebelum pengukuran.
  • kesalahan sistematik dapat dieliminasi dengan melakukan :
    • Kalibrasi peralatan
    • Menggunakan metoda pengukuran tertentu. Contohnya : kesalahan kolimasi pada pengukuran sipat datar dapat dieliminasi dengan membuat jarak ke muka dan kebelakang sama panjang.
    Contoh 5.2: Kesalahan Sistematis

Gambar 5.4 Kesalahan Sistematis Pada Pengukuran Waterpas

Kesalahan Acak (Random/Accidental Error)

  • Karakteristik : kesalahan yang masih terdapat pada pengukuran setelah blunder dan kesalahan sistematik dihilangkan
  • Tidak memiliku hubungan fungsional yang dapat dinyatakan dalam model deterministik, tetapi dapat dimodelkan menggunakan model stokastik (berdasarkan teori probabilitas)
  • Sumber : Personal, Alat, dan Alam
  • Tidak dapat dihilangkan tetapi dapat diminimalkan dengan melakukan pengukuran berulang (redundant observations) dan melakukan hitung perataan terhadap hasil pengukuran dan kesalahan pengukuran. Salah satu metode yang sering digunakan dalam hitung perataan adalah metode perataan kuadrat terkecil (Least Square Adjustment)
Jika kesalahan sistematik, koreksi dapat dilakukan dengan menggunakan model fungsional dan kalibrasi alat, maka untuk mengeliminir kesalahan acak digunakan model probabilitas.

Jenis Pengukuran



Pengukuran Langsung

Pengukuran langsung adalah pengukuran yang dilakukan untuk mendapatkan nilai hasil pengukuran secara langsung. Pengukuran langsung dapat dilakukan pada kondisi yang sama atau pada kondisi yang berbeda. Pada pengukuran langsung pada kondisi sama, seluruh pengukuran dilakukan oleh pengukur yang sama, alat yang sama, dan keadaan lingkungan yang sama. Sedangkan pengukuran langsung pada kondisi yang tidak sama, terjadi apabila pada waktu pengukuran terjadi pergantian pengukur, alat, atau terjadi perubahan keadaan lingkungan. Contohnya yaitu mengukur panjang dengan pita ukur dan mengukur sudut dengan theodolit.

Pengukuran tidak langsung

Pengukuran tidak langsung adalah pengukuran yang dilakukan apabila nilai hasil ukuran tidak mungkin didapatkan langsung. Nilai hasil ukuran yang dicari didapatkan berdasarkan hubungan fungsional tertentu dari beberapa hasil pengukuran langsung. Contohnya adalah mengukur tinggi berdasarkan hasil pengukuran sudut dan jarak.

Keandalan Pengukuran (Reliability of Measurement)

Beberapa istilah yang digunakan untuk menyatakan keandalan pengukuran adalah presisi (precision) dan akurasi (accuracy).
  • presisi adalah derajat kedekatan kesamaan pengukuran antara satu dengan lainnya. Jika hasil pengukuran saling berdekatan (mengumpul) maka dikatakan mempunyai presisi tinggi dan sebaliknya jika hasil pengukuran menyebar maka dikatakan mempunyai presisi rendah. Presisi diindikasikan dengan penyebaran distribusi probabilitas. Distribusi yang sempit mempunyai presisi tinggi dan sebaliknya. Ukuran presisi yang sering digunakan adalah standar deviasi (q). Presisi tinggi nilai standar deviasinya kecil dan sebaliknya.

Gambar 5.6 Presisi Tinggi (Kiri) dan Presisi Rendah (Kanan)

  • Akurasi adalah derajat kedekatan pengukuran terhadap nilai sebenarnya. Akurasi mencakup tidak hanya kesalahan acak, tetapi juga bias yang disebabkan oleh kesalahan sistematik yang tidak terkoreksi. Jika tidak ada bias kesalahan sistematik maka standar deviasi dapat dipakai untuk menyatakan akurasi.
  • Derajat ketidakpastian (uncertainty) Derajat ketidakpastian adalah selang nilai ukuran yang didalamnya diprediksi kesalahan pengukuran telah tereduksi

POLIGON

POLIGON

Kerangka Kontrol Horisontal (KKH) merupakan kerangka dasar pemetaan yang memperlihatkan posisi horisontal (X,Y) antara satu titik relatif terhadap titik yang lain di permukaan bumi pada bidang datar. Untuk mendapatkan posisi horisontal dari KKH dapat digunakan banyak metode, salah satu metode penentuan posisi horisontal yang sering digunakan adalah metode poligon. Metode poligon digunakan untuk penentuan posisi horisontal banyak titik dimana titik yang satu dan lainnya dihubungkan dengan jarak dan sudut sehingga membentuk suatu rangkaian sudut titik-titik (polygon). Pada penentuan posisi horisontal dengan metode ini, posisi titik yang belum diketahui koordinatnya ditentukan dari titik yang sudah diketahui koordinatnya dengan mengukur semua jarak dan sudut dalam poligon.

Macam-macam Poligon

Poligon dapat dibedakan berdasarkan dari [1] bentuk dan [2] titik ikatnya.
  1. Poligon Menurut Bentuknya
Berdasarkan bentuknya poligon dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu :
  1. poligon terbuka,
  2. tertututup,
  3. bercabang dan
  4. kombinasi.
  • Poligon Terbuka
Poligon terbuka adalah poligon yang titik awal dan titik akhirnya merupakan titik yang berlainan (tidak bertemu pada satu titik).
  • Poligon Tertutup
Poligon tertutup atau kring adalah poligon yang titik awal dan titik akhirnya bertemu pada satu titik yang sama. Pada poligon tertutup, koreksi sudut dan koreksi koordinat tetap dapat dilakukan walaupun tanpa titik ikat.
  • Poligon Bercabang
Poligon cabang adalah suatu poligon yang dapat mempunyai satu atau lebih titik simpul, yaitu titik dimana cabang itu terjadi.
  • Poligon Kombinasi
Bentuk poligon kombinasi merupakan gabungan dua atau tiga dari bentukbentuk poligon yang ada.
2. Poligon Menurut Titik Ikatnya

1. Poligon Terikat Sempurna

Suatu poligon yang terikat sempurna dapat terjadi pada poligon tertutup ataupun poligon terbuka, suatu titik dikatakan sempurna sebagai titik ikat apabila diketahui koordinat dan jurusannya minimum 2 buah titik ikat dan tingkatnya berada diatas titik yang akan dihasilkan.
  • Poligon tertutup terikat sempurna :
Poligon tertutup yang terikat oleh azimuth dan koordinat.
  • Poligon terbuka terikat sempurna :
Poligon terbuka yang masing-masing ujungnya terikat azimuth dan koordinat.

2. Poligon Terikat Tidak Sempurna

Suatu poligon yang terikat tidak sempurna dapat terjadi pada poligon tertutup ataupun poligon terbuka, dikatakan titik ikat tidak sempurna apabila titik ikat tersebut diketahui koordinatnya atau hanya jurusannya.
  • Poligon tertutup tidak terikat sempurna :
Poligon tertutup yang terikat pada koordinat atau azimuth saja.
  • Poligon terbuka tidak terikat sempurna :
  1. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth saja, sedangkan ujung yang lain tidak terikat sama sekali. Poligon semacam ini dapat dihitung dari azimuth awal dan yang diketahui dan sudut-sudut poligon yang diukur, sedangkan koordinat dari masingmasing titiknya masih lokal.
  2. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh koordinat saja, sedangkan ujung yang lain tidak terikat sama sekali.Poligon semacam ini dapat dihitung dengan cara memisalkan azimuth awal sehingga masing-masing azimuth sisi poligon dapat dihitung, sedangkan koordinat masing-masing titik dihitung berdasarkan koordinat yang diketahui. Oleh karena itu pada poligon bentuk ini koordinat yang dianggap betul hanyalah pada koordinat titik yang diketahui (awal) sehingga poligon ini tidak ada orientasinya.
  3. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat. Poligon jenis ini dapat dikatakan satu titik terikat secara sempurna namun belum terkoreksi secara sempurna baik koreksi sudut maupun koreksi koordinat, tetapi sistim koordinatnya sudah benar.
  4. Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth. Pada poligon jenis ini ada koreksi azimuth, sedangkan koordinat titik-titik poligon adalah koordinat lokal.
  5. Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh koordinat. Jenis poligon ini tidak ada koreksi sudut tetapi ada koreksi koordinat.
  6. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh koordinat, sedangkan ujung yang lain terikat azimuth. Pada poligon ini tidak ada koreksi sudut dan koreksi koordinat.
  7. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat saja, sedangkan ujung yang lain terikat koordinat. Jenis poligon ini tidak ada koreksi sudut tetapi ada koreksi koordinat.
  8. Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat azimuth. Poligon ini ada koreksi sudut tetapi tidak ada koreksi koordinat.
  9. Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat azimuth. Jenis poligon ini ada koreksi sudut tetapi tidak ada koreksi koordinat.
3. Poligon Tidak Terikat/Bebas
    • Poligon tertutup tanpa ikatan sama sekali (poligon lepas)
    • Poligon terbuka tanpa ikatan sama sekali (poligon lepas), pengukuran seperti ini akan terjadi pada daerah-daerah yang tidak ada titik tetapnya dan sulit melakukan pengukuran baik dengan cara astronomis maupun dengan satelit. Poligon semacam ini dihitung dengan orientasi lokal artinya koordinat dan azimuth awalnya dimisalkan sembarang.
    Rumus Umum Perhitungan Poligon

    Pada Gambar 9.5, untuk mendapatkan koordinat titik 1, 2, 3 dan 4 maka dilakukan pengukuran sudut (β1, β2,β3, β4) dan jarak (dB1, d12, d23, d34, d4C)
    Rumus koordinat secara umum :

    Syarat Geometris Hitungan Koordinat

    1. Syarat Sudut
    Apabila dipakai pada poligon tertutup dimana titik awal dan titik akhir sama maka rumus diatas akan berubah :
    Untuk poligon tertutup yang diukur sudut dalamnya maka :
    • syarat sudut :

    • syarat absis :
    • syarat ordinat :
    Untuk poligon tertutup yang diukur sudut luarnya maka :
    • syarat sudut :
    • syarat absis
    • syarat ordinat

    Toleransi Pengukuran


    Cara Pengukuran

    1. Memasang alat theodolit pada titik awal dan aturlah alat tersebut.
    2. Posisi teropong biasa arahkan alat pada titik sebelumnya (titik tetap, bila ada) dan kemudian pada titik selanjutnya, putarlah teropong pada posisi luar biasa arahkan ke titik seperti pada posisi teropong biasa.
    3. Ukurlah jarak antar titik secara langsung dengan pita ukur.
    4. Kemudian pindahkan alat theodolit ke titik selanjutnya, lakukan langkah 1 s.d 3, demikian seterusnya sampai titik terakhir apabila poligon terbuka dan kembali ke titik awal apabila poligon tertutup.
    Cara Perhitungan :

    1. Hitunglah azimuth awal dan akhir apabila diketahui.
    2. Hitunglah salah penutup sudut.
    3. Koreksikan masing-masing sudut pengukuran.
    4. Hitunglah azimuth masing-masing titik/arah.
    5. Hitunglah selisih absis (ΔX ) dan selisih ordinat (ΔY )
    6. Hitung salah penutup absis dan salah penutup ordinat.
    7. Koreksikan masing-masing selisih absis dan selisih ordinat.
    8. Hitung koordinat masing-masing titik.