Sabtu, 03 Desember 2011

Prosedur Koreksi Geometrik


Prosedur Koreksi Geometrik

Dalam koreksi geometrik diperlukan data lain yaitu ground control points ( GCP ) dengan daerah yang sama dengan daerah yang berada pada cakupan citra tersebut. Dengan menggabungkan antara koordinat yang ada pada tanah dengan koordinat pada citra sehingga didapatkan koreksi geomterik.

Maksud dari koreksi geometrik adalah untuk mereduksi distorsi geometrik pada citra. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mencari hubungan antara sistem koordinat citra dengan sistem koordinat geografis ( koordinat tanah ) dengan menggunakan GCP. Tujuan dari proses ini adalah untuk mendapatkan nilai pixel yang benar pada posisi yang tepat.
Dua jenis koreksi geometrik yang sering digunakan adalah rektifikasi geometrik ( geometric rectification ) dan registrasi geometrik ( registration geometric ). Rektifikasi adalah proses membuat geometrik citra menjadi planimetrik ( harlick, 1973 ). Prosesnya adalah mencari nilai koordinat pixel GCP dengan koordinat dengan koordinat peta yang sesuai. Rektifikasi merupakan koreksi geometrik yang presisi karena tiap pixel tidak hanya dapat dinyatakan dalam baris dan kolom akan tetapi dapat juga dinyatakan dalam lintang dan bujur atau meter dalam sistem proyeksi yang baku setelah proses geometrik selesai. Koreksi ini digunakan jika ingin mendapatkan luas area yang akuran dan arah serta jarak yang tepat pada citra. Rektifikasi juga disebut sebagai Image to Image Rectification.
Kadangkala dalam penggunaan citra tidak dibutuhkan koreksi geometrik yang tinggi, seperti dengan membandingkan dua citra yang sama yang didapatkan pada waktu yang berbeda untuk melihat perubahan yang terjadi pada daerah yang terekam pada citra. Rektifikasi pada citra dapat dilakukan, tetapi mungkin hal ini tifak diperlukan. Dalam hal ini registrasi citra dapat digunakan, yaitu dengan menyesuaikan posisi citra yang satu dengan yang lainnya atau mentransformasikan koordinat citra yang satu ke koordinat citra yang lainnya. Proses ini dikenal sebagai Image To Image Registration.
Kedua metode diatas pada dasarnya menggunakan prinsip pengolahan citra yang sama. Perbedaannya pada rektifikasi citra yang menjadi acuan adalah peta yang memiliki proyeksi yang baku. Sedangkan pada registrasi yang menjadi acuan adalah citra. Perlu dicatat bahwa jika suatu citra dijadikan acuan dalam meregistrasi citra lain, maka citra yang diregistra memiliki kesalah geometris yang terjadi pada citra yang menjadi acuan. Oleh karena itu pada koreksi geometrik umum nya menggunakan rektifikasi citra dengan menggunakan peta standar sebagai acuan.

1.1.      Ground Control Points ( GCP )

Ground control point ( GCP ) adalah titik kontrol yang berada di bumi dimana koordinatnya merupakan koordinat citra ( dalam bentuk baris dan kolom ) dan sistem koordinat peta atau koordinat tanah dapat diidentifikasi. GCP dapat kita buat sendiri dengan menggunakan beton ataupun GCP diambil dengan proses digitasi peta dasar yang akan digabungkan dengan citra.

1.2.      Ketelitian Koreksi Geometrik

Kedua metode diatas yang digunakan dalam koreksi geometrik pada dasarnya menggunakan prinsip pengolahan citra yang sama. Perbedaannya pada rektifikasi citra yang menjadi acuan adalah peta yang memiliki proyeksi yang baku. Sedangkan pada registrasi yang menjadi acuan adalah citra. Perlu dicatat bahwa jika suatu citra dijadikan acuan dalam meregistrasi citra lain, maka citra yang diregistra memiliki kesalah geometris yang terjadi pada citra yang menjadi acuan. Oleh karena itu pada koreksi geometrik umum nya menggunakan rektifikasi citra dengan menggunakan peta standar sebagai acuan.
Dua operasi dasar yang harus dilakukan untuk rektifikasi citra dengan menggunkan sisitem koordinat peta adalah

1.      Interpolasi spasial
Interpolasi spasial adalah mengindentifikasi hubungan geometrik antara lokasi input pixel dengan koordinat peta yang sesuai terhadap lokasi yang sama. Sehingga didapatkan model transformasi koordinat yang kemudian digunakan untuk merektifikasi atau merelokasi setiap input pixel pada citra aslikedalam posisi yang sesuai dengan citra output.
Untuk melakukan interpolasi spasial dibutuhkan sejumlah GCP yang koordinatnya diketahui dalam sistem koordinat citra dan sistem koordinat peta yang kemudian dibuat model matematika dari distorsi goemetrik yang terjadi.

2.      Interpolasi intensitas
Interpolasi intensitas adalah menentukan nilai pixel dari citra output. Proses interpolasi itensitas umumnya disebut dengan resampling. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu     :
a.      Nearest Neighbor ( Orde Nol )
Pada orde pertama ( zero order ) atau nearest neighbor brighness value ( BV ) dari pixel yang paling dekat dengan koordinat x’,y’ digunakan sebagai nilai BV output koordinat x,y.
b.      Bilinear Interpolation ( First Order)
Pada metode ini nilai pixel output ditentukan dengan menginterpolasi nilai BV pada dua arah ortogonal dari input citra. Atau mencari empat nilai BV yang terdekat dengan koordinat x’,y’ pada input citra kemudian menghitung BV yang baru dari keempat nilai BV input dengan menggunakan jarak sebagai bobot

 
Dimana     :
                 Z k        :           nilai keempat nilai BV dari input citra
                 D k2      :           jarak dari nilai BV input terhadap koordinat x’,y’
a.      Cubic Convolution
Pada cubic convolution cara yang digunakan untuk mendapatkan nilai BV output dama dengan bilinear iterpolation, hanya saja nilai BV yang digunakan adalah 16 pixel yang berada disekitar koordinat x’,y’.


1 komentar: